Indonesian Freebie Web and Graphic Designer Resources

Siapa tuh Ermi?

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Halo, nama lengkap saya Ermida Debita. Teman-teman yang sudah dekat memanggil saya Ermi, kalau yang baru kenal biasanya Ermida. Saya lahir 12-12-96. Sekarang saya sedang merantau ke Bandung untuk sekolah, tepatnya di SMAN 5 Bandung. Doakan saya semoga perantauan saya tidak sia-sia dan diberkahi Allah ya! Aamiin.

Kalau Doa Mesti yang Baik-baik

1 comments

Maafin ya, udah lama aku ga ngeblog. Suka ga tau mau cerita apa, abis, perasaan cerita aku sering ga berbobot. huhu

Sekarang lagi mau cerita aja kalau handphone aku yang dulu ilang. handphonenya padahal beli pakai uang sendiri. Jadi ngumpulin uang dulu terus ditabung. Handphonenya ga mahal-mahal amat, tapi lumayan. Aku sadar lho, dulu aku sempet ga bersyukur dan rasanya mau ganti handphone setelah beberapa bulan pakai. Eh, ternyata Allah justru mengabulkan doaku. Allah membuat aku belajar ikhlas dan mengingatkan aku. Handphonenya ilang heheh. Ga tau dibawa orang atau jatuh, pokoknya di tas udah ga ada. 

Pelajarannya, kalau mau doa yang baik-baik aja. Soalnya yah, padahal aku hanya ngomong dalam hati minta ganti handphone dan ngerasa nyesel beli handphone itu, eh, ternyata diijabah doanya. Sekarang justru pakai handphone lama dulu, nunggu tabungannya banyak lagi nih :0

dadaah~ :D
  
Sekarang mau belinya yang dibawah  1 juta aja. Belum tau deng, liat nanti bagusnya gimana kata orang tua. Lagi suka sama model yang di bawah ini: 

Doain yang terbaik dari yang terbaik ya.. Aamiin..

::FORWARD::

0 comments

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”

“Dari Indonesia,” jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! ” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Uang Hasil Jerih Payah Sendiri Itu Berbeda

0 comments

Sering ya kita dengar kalau mencari uang itu tidak mudah? Pada kenyatannya memang benar sekali lho. Aku merasakan hal itu dan memang Subhanallah ketika kita mendapatkannya dari hasil jerih payah sendiri. Setelah dapat pun mengalokasikannya harus pintar.
Awal bulan biasanya aku jualan makanan ringan di kelas dan kadang sampai kelas-kelas lain. Hanya awal bulan saja? Sebenernya ngga juga sih, tergantung masih ada stok jualannya atau tidak. Aku beli makanan ringan buat dijual juga pakai uang sendiri. Kalau sudah balik modal diputar lagi, untungnya suka dilapor ke ibu dan biasanya buat tambahan uang jajan aku. Kalau disuruh ngedanus dari ekskul, untungnya yaa disetor ke ekskul yang bersangkutan.

Pernah di semester 1 dan 2 aku dapat rezeki dari tempat yang ga aku duga. Alhamdulillah.. Itu juga bukan semata-mata datang sendiri, tetapi melalui proses dulu yang namanya usaha. Di semester 1 aku pernah ikut lomba puisi mewakili sekolah yang diadakan oleh Kementrian Hukum dan HAM di Bandung. Padahal tau lombanya mendadak, tapi Alhamdulillah bisa menjadi juara. Aku latihan baca puisi sehari sebelumnya di kamar kostan dan sepertinya suaraku terdengar sampai luar, aku malu, tapi yasudahlah. Juara 2 dapat handphone, handphone n*x**n. Walau merk handphonenya mungkin dianggap 'ga banget' sama orang lain, tapi engga buat aku. Aku bersyukur banget.
Semester 1 berlalu, aku udah ga pernah kepikiran lomba puisi dulu. Namun ada guru yang mengingatkan dan bilang kalau yang dapat juara di semester 1 karena mewakili sekolah akan mendapatkan reward dari sekolah. Dari situ aku ingat dan hanya bersyukur. Aku fikir Alhamdulillah kalau dapat reward dari sekolah, 100-250rb lumayanlah buat tambahan uang bulanan. Kalian tahu teman? Tenyata reward dari sekolah itu sebesar Rp. 1jt. Aku bersyukur dan senang sekali. Aku sms ibu dan bapakku ketika itu. Hari penerimaan reward pun datang. Banyak juga yang mengalami hal sama seperti aku. Deg-degan ketika dipanggil dan disuruh maju. 

Ibu bilang setengah dari uangnya ditabung, suatu hari nanti pasti akan kerasa besar manfaatnya ketika uangnya ditabung. Aku ikuti saran ibu. 500rb ditabung dan 500rb lagi aku jajanin. Hehe. Aku beli headset, tas, jajan, dan 'secret' dari uang itu. Memang benar-benar terasa ketika sesuatu yang kita beli memakai uang hasil jerih payah sendiri, teman.

Uang Itu Sensitif

0 comments

Ibu pernah bilang ke aku kalau pegang uang itu sensitif. Awalnya aku mikir, sensitif ke uang kayak gimana emang? Haha dan aku pun merasakannya. Jreng jreng~
Benerlah, yang namanya megang uang itu pusing. Awal semester dulu aku jadi bendahara di kelas, gilelah nagihinnya aja susah banget. Abis itu ya, pusing menggila nyatet pengeluaran dan pemasukannya. Kenapa? Mungkin karena pertama anak-anak yang bikin aku ribet dan yang kedua karena aku di Bandung juga udah capek buat pegang uang aku sendiriii. Haha mungkin ada yang mikir aku tuh lebay, tapi jangan salah, memang bener kenyataannya lho. Aku pegang uang bulanan dari SPP, uang kostan, uang makan, dll udah butuh jiwa dan raga. Pas pegang kas kelas tambah-tambah lagi. Hehe aku juga lupa kenapa dulu aku yang jadi bendahara. Eh, tapi Alhamdulillah lho ada yang mau gantiin posisi aku, Alhamdulillah pisan, itu aku konsultasi dulu ke orang tua bagaimana baiknya. Pas aku turun jabatan keuangan kelas bersih kok, tenang sajee :D Hemmm tapi tapi, itu tergantung kitanya masing-masing ya. Untuk saat ini aku memang belum bisa memegang berbagai macam uang, tapi kan belum tentu dengan kalian. Bisa jadi kalian sudah handal dalam memanajemen uang. Aku masih dan akan terus belajar, insya Allah. Minta doanya ya.. Hehe

Harapan Orang Tuaku Bukan Sembarang!

0 comments

Setiap orang tua pasti memiliki harapan yang besar tehadap anaknya. Menurut aku itu merupakan hal yang wajar dan bukannya memang keharusan ya? Kalau orang tua ga punya harapan besar ke kita, kita sendiri juga yang rugi. Kurang faham tujuan hidup kita mau seperti apa kedepannya. Biasanya kan sebagian besar cita-cita seorang anak salah satunya adalah membanggakan dan membahagiakan orang tua. Jadi ketika orang tua menunjukan harapannya yang besar ke kita, kita jadi termotivasi berusaha mewujudkan itu. Otomatis orang tua mendukung dan kita pun akan percaya diri. Hehe tentunya harapan yang positif ya.. Eh, aku ngomongnya belibet ga? Yaudah deh, yang penting kalian nangkep opini aku.


Sebenernya aku tuh mau share, kadang-kadang aku sendiri juga merasa bersalah kalau orang tua dengan optimis menyatakan harapan besarnya dan aku yang malah ga percaya diri. Bukan karena apa-apa aku ga percaya diri, tapi mungkin karena aku yang kurang memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia dan kurang bekerja keras. Aku yakin harapan-harapan itu bukanlah suatu ketidakmungkinan yang bisa aku wujudkan, tapi gimana ya? Haduuh setan suka godain aku sih. Yaa.. Alhamdulillah sejauh ini aku masih bisa mengalihkan sehingga aku percaya kalau harapan-harapan besar orang tuaku bukanlah suatu kebetulan ataupun suatu hal yang mustahil. Selama aku mau bekerja keras dengan belajar, belajar, dan berdoa, I think nothing is impossible in this world. Thank you very much for all. You make me hold out in a place that I've never known before!  

IPA atau IPS Yaa?

0 comments

www.google.co.id

Temen-temeen, kalian masih galau ga milih jurusan buat kelas 2? 
Aku masih agak-agak nih... :( Sebenernya aku udah janji sama diri sendiri sebelum tes psikotes buat penjurusan di sekolah, aku bakal terima hasil apa-pun dan bakal ngikutin hasil itu. Sebelumnya aku tuh pengennya IPS karena mau jadi diplomat, tapi kata bapak sama ibu aku punya bakat di IPA dan diplomat juga bisa dari IPA. Oke, udah. Terus hasil psikotes tuh aku disaranin IPA, jiaah mutlak jadinya >:/  Heheh yaudah insya Allah kalau nilai bisa, aku ingin masuk IPA. Aamiin. 
nah, galaunya itu apa yaa? Gini nih, Hubungan Internasional sama Teknik Kimia jauh ga? Kalo kata aku mah jauh masa. Aku ingin kalau kuliah HI, tapi ibu sama bapak menyarankan teknik kimia. HI itu kata kakak kelas banyak yang dari IPS kalau teknik kimia ya mutlak IPA. HI juga  ga jarang dari IPA, nah makanya aku cari jalan aman yaitu IPA, supaya memantapkan apa bakat dan minatku di kelas 2 dan 3. 
Dari anak IPS, kalau IPA tuh orangnya individualis, kerja buat sendiri dan kurang faham permasalahan di masyarakat. Kata anak IPA, anak IPS sebenernya ga salah ngomong itu, mereka emang berlajar sosialisasi, dll, mereka tahu permasalahan di masyarakat, tapi mereka ga tahu apa solusinya karena mereka selalu menghafal dan logikanya jarang dilatih. Wets kayak orang yang lagi debat ya? Engga koo maksud aku itu netral. Jadi intinya, antara anak IPA dan IPS dua-duanya penting. Kalau dalam suatu pemerintahan hanya ada salah satunya, dijamin pemerintahannya  bakal krik-krik alias kurang efektif. 
Nah yang sekarang, aku dapet dari someone lah pokoknya, kalau anak IPS itu jadi atasan, kalau IPA jadi pekerja. IPA yang jadi dokternya, IPS yang punya rumah sakitnya. Huaa ga maksud apa-apa. Ini aku hanya sedang sharing. Diluar itu, menurut aku semua relatif. Tergantung individu masing-masing. Mau jadi anak IPA ataupun IPS dua-duanya penting dan bisa berkontribusi di masyarakat. Untuk aku sendiri, galauan aku nih aneh kadang-kadang doang munculnya. Yaa.. mudah-mudahan abis liburan pilihanku benar-benar sudah mantap. Aamiin.

Semuanyaaaaa jangan sampai salah memilih jurusan. Pilihlah yang paling baik untuk kalian, Pilih jurusan yang memang sesuai bakat dan minatmu. Soalnyakan entar kalian belajar buat kalian sendiri, bukan buat orang lain. Setelah kalian sudah jadi orang ahli dibidang masing-masing, baru deh bekerja buat diri sendiri, orang tua, keluarga, agama, masyarakat, dan negara. 화이팅! がんばって! SemangkA!

Perjalanan Pulang Libur US Kakak Kelas 2012

0 comments

Alhamdulillah sekarang bisa liburan lagi ke Tangerang, hehe. Biasanya kalau hanya libur sebentar ibu dan bapak bilang tidak usah pulang ke rumah karena ongkos mahal. Kalau dulu pulang ke Tangerang naik travel Cipagant* yang ke Bintaro, tapi kemarin aku pulang naik bis Primajas* (lebih hemat) lhoo yang jurusan Harapan Indah dan ketemu bapak di Mall Metrapolitan, Bekasi. Kata ibu sama bapak kalau mau naik bis harus sama temen, nah makanya kemarin itu aku pulang bareng Nala, anak rantauan juga, tapi dari Bekasi. 
Pas pulang aku sama Nala paling riweuh, rempong pula. Heheh soalnya kalau diliat-lliat hanya kami penumpang yang SMA. Penumpang lain sepertinya kerja atau kuliah. 
Perjalanan di bis seperti orang lain pada umumnya. Yaah bedanya aku sering banget nanya, "bentar lagi ya, Nal?" "Iya" jawab Nala dan itu Nala asal aja bilang iya-iya tapi masih sejam lagi. 
-..-" Kalau diitung-itung pas udah masuk daerah yang sering kulihat setiap 10 menit aku nanya, "bentar lagi ya, Nal" hahah maapiiin.
Pas udah deket Mall Metropolitan itu kami lagi ngobrol sesuatu (aku lupa apa) dan itulah yang menyebabkan kami lupa untuk turuuun. Parah pisanlah di situ. Kami rempong lagi~  Akhirnya aku ke depan dan minta izin ke supir bisnya pas lagi lampu merah buat minta turun. Untungnyaa kata bapaknya, "Oh, iya boleh, tapi cepet yaa.. soalnya udah mau lampu hijau" Aku sama Nala langsung buru-buru, "Ayook, Nal"
Okeeh intinya jangan sampai seperti kami ya, malu tau minta turun di lampu merah ++"

Followers

Thanks For Visiting, Hopefully Could Be Useful And Don't Forget To Leave Suggestions In The Suggestion Box ^^